TERAPI SENSORI INTEGRASI


 TERAPI SENSORI INTEGRASI



Sensori integrasi bertugas membantu proses interpretasi dan organisasi yang dilakukan otak sehingga mampu menerima informasi sensorik dari luar tubuh. Informasi sensorik ini meliputi bau, suara, gerakan, sentuhan, penglihatan dan rasa.

Anak yang mengalami sensori integrasi disorder biasanya memiliki gangguan dalam proses menerima informasi sensorik. Gangguan ini sering dihadapi oleh anak yang mengidap autisme atau masalah tumbuh kembang lainnya. Solusinya anak perlu mengikuti terapi sensori integrasi.

Definisi Sensori Integrasi dan Tanda Gangguannya

Sensori integrasi adalah proses untuk mengenal, mengubah serta membedakan sensasi dari sistem sensori guna memproduksi respon berupa perilaku yang bertujuan. Kemampuan ini sangat penting guna mendukung aktivitas keseharian seperti belajar, bekerja, bersosialisasi, makan dan minum, hingga berpakaian.

Istilah Sensori Integrasi (SI) diterbitkan kepada publik pertama kali tahun 1976 oleh Jean Ayres Phd OTR. Sensori integrasi adalah proses untuk mengenal, mengubah serta membedakan sensasi dari sistem sensori guna memproduksi respon berupa perilaku yang bertujuan. Kemampuan ini sangat penting guna mendukung aktivitas keseharian seperti belajar, bekerja, bersosialisasi, makan dan minum, hingga berpakaian. Sensori integrasi bertugas membantu proses interpretasi dan organisasi yang dilakukan otak sehingga mampu menerima informasi sensorik dari luar tubuh. Informasi sensorik ini meliputi bau, suara, gerakan, sentuhan, penglihatan, dan rasa. Anak yang mengalami sensori integrasi disorder biasanya memiliki gangguan dalam proses menerima informasi sensorik. Gangguan ini sering dihadapi oleh anak yang mengidap autisme atau masalah tumbuh kembang lainnya. Solusinya anak perlu mengikuti terapi sensori integrasi.

Terapi Sensori Integrasi (SI) merupakan jenis terapi yang mengedepankan pengorganisasian sensasi (indera). Tujuan dari terapi ini adalah agar otak dapat mengintegrasikan informasi yang berasal dari indera dengan baik sehingga tubuh dapat beraksi dan berespons sesuai dengan situasi lingkungan yang dihadapi dan dengan tujuan yang berarti (purposeful manner). Hal inilah yang nantinya akan menjadi pondasi dari kemampuan akademik dan perilaku sosial. Sensori integrasi merupakan bagian dari perkembangan anak, dan anak akan menggunakan pengalaman sensorinya untuk membangun kemampuan yang semakin hari semakin kompleks (building block). Terapi SI didesain untuk anak-anak dengan gangguan pemrosesan sensori (Sensory Integrative Dysfunction), seperti pada anak-anak dengan ASD (Autism Spectrum Disorder), ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder), dispraksia, dll.  

Seperti yang sudah kita kenal selama ini ada 5 indera (panca indera) yaitu: penglihatan, pendengaran, pengecap, pembau, serta raba. Kelima indera ini merupakan indera yang memberikan kita informasi mengenai informasi yang datang dari luar tubuh. Selain itu ada 2 indera lagi yang juga penting yaitu yang dinamakan indera vestibuler dan indera proprioseptif. Keduanya merupakan indera yang memberitahu kita mengenai posisi tubuh, gerakan tubuh, dan hubungannya dengan gaya tarik bumi (gravitasi). Untuk indera vestibuler lebih mengarah pada keseimbangan dan gerakan kepala, sedangkan proprioseptif lebih ke arah posisi dan gerakan tubuh. Kesemuanya ini akan diintegrasikan di otak secara tidak sadar.

Sesungguhnya proses integrasi sensori ini berfungsi dan berkembang dengan urutan alami, tetapi pada beberapa anak lebih cepat dan lainnya lebih lambat. Setiap anak akan menggunakan aktivitas yang dilakukannya untuk mengembangkan suatu building block yang semakin lama semakin kompleks. Dalam terapi Sensori Integrasi Anak akan diberikan tantangan dalam bentuk permainan yang menyenangkan dan melibatkan semua indera agar anak dapat mengembangkan fungsi-fungsi motorik baru dan kompleks. Tantangan tersebut harus sesuai dengan kemampuan anak pada awalnya, yaitu tidak terlalu sulit, juga tidak terlalu mudah (just the right challenge) dan tantangan tersebut akan ditingkatkan semakin lama semakin sulit.. Idenya adalah melalui pengulangan, sistem saraf anak akan berespons dalam cara yang semakin terorganisir terhadap sensasi dan gerakan. Suatu terapi SI dikatakan berhasil apabila pada saat sesi terapi anak seolah-olah hanya bermain, dan tanpa sadar telah mengembangkan otaknya menjadi lebih terorganisir.

Bila seseorang mengalami gangguan dalam perkembangan sensorinya maka akan sulit untuk beraktivitas sehari-hari. Tanda seseorang mengalami sensori integrasi disorder adalah terlalu sensitif terhadap bau atau bahan pakaian tertentu. Ia juga akan berkelit ketika disentuh dan menolak makanan dengan tekstur tertentu karena merasa aneh ketika mengunyah makanan tersebut.

Gangguan perkembangan sensorik juga menyebabkan anak kesulitan saat memusatkan perhatian pada benda bergerak, takut ketinggian, dan mengalami gangguan keseimbangan. Oleh karena itu, anak dengan gangguan ini mudah menabrak sesuatu atau tampak seperti sempoyongan saat berjalan. Solusinya adalah anak perlu mengikuti terapi agar mengembalikan fungsi sensoriknya sebagaimana mestinya.

Terapi sensori integrasi merupakan metode terapi guna membantu anak dengan gangguan sensori integrasi. Anak akan dihadapkan pada stimulus sensorik secara berulang dan terstruktur agar otak bisa beradaptasi sehingga responnya akan lebih baik. Terapi sensori integrasi adalah perawatan medis yang masuk dalam terapi okupasi. Terapi ini hanya boleh dilakukan oleh ahli terapi okupasi yang sudah terlatih. Pasiennya diharapkan mampu mencapai target spesifik usai menjalani perawatan ini khususnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Kapan Seseorang Memerlukan Sensori Integrasi?

Seorang anak bisa jadi memerlukan terapi sensori integrasi jika perilaku atau sikapnya menunjukkan ada masalah pemrosesan indrawi, misalnya:

  • Fokusnya mudah teralihkan
  • Tidak bisa diam (selalu bergerak) atau enggan diajak melakukan aktivitas
  • Impulsif (sering mengambil risiko)
  • Ceroboh atau rentan mengalami kecelakaan
  • Sulit beradaptasi dengan lingkungan baru
  • Enggan ada perubahan pada rutinitas sekecil apa pun
  • Bermasalah di sekolah
  • Sulit memiliki teman baru

Tujuan Sensori Integrasi

Membuat anak dapat memperbaiki dan mengembangkan respons yang tepat dan spontan terhadap pengalaman lingkungan sehingga fungsinya dalam kehidupan sehari-hari meningkat. Sensori integrasi mendukung perkembangan fisik, sosial dan emosional anak.


Siapa yang Memerlukan Sensori Integrasi?

Terapi sensori integrasi ditujukan bagi anak yang mengalami gangguan pemrosesan indrawi atau Sensory Processing Disorder. Adapun gangguan tersebut seperti :

  1. Gangguan spektrum autistik
  2. Gangguan pemusatan perhatian
  3. Ketidakmampuan mempelajari hal umum atau hal tertentu
  4. Peristiwa cedera, penyakit, trauma
  5. Gangguan koordinasi perkembangan
  6. Kesulitan mengendalikan suasana hati

Sensori Integrasi Melibatkan 7 Sistem Sensori

  1. Tactil (sentuhan), indera yg memproses tentang perasa dan peraba yg diterima melalui kulit
  2. Auditory (pendengaran), untuk mengidentifikasi volume,nada dan suara secara langsung
  3. Visual (penglihatan), untuk melihat dan membantu mengidentifikasi objek,menilai jarak dari orang lain,menyadari warna,tingkat cahaya
  4. Olfactory (penciuman), untuk mengidentifikasi aroma yang berbeda
  5. Gustatory ( pengecapan), untuk mendeteksi rasa manis,asin,asam ,pahit
  6. Vestibular, menunjukkan posisi tubuh dalam sebuah ruang gerak/gravitasi bumi sehingga anak mengetahui letak keberadaan diri sendiri meskipun dalam keadaan gelap
  7. Proprioception, kesadaran tubuh (input sensori otot dan sendi)memungkinkan manusia merasakan posisi tubuh berada dan besaran gaya yang diperlukan saat aktifitas

Sensory Processing Disorder (SPD)

Sensory Processing Disorder merupakan gangguan sensorik pada anak yang menyebabkan anak beraksi berlebihan (Hipersensitif) atau bahkan tidak memberi reaksi apapun (Hiposensitif) terhadap rangsangan.

Contoh gejala Sensory Processing Disorder :

  • Menjadi sangat khusus tentang makanan karena tekstur atau rasa
  • Reaksi lambat terhadap gerakan cepat,suara keras atau cahaya terang
  • Koordinasi motorik yg buruk
  • “Pemilih Makanan ‘ dengan respon muntah yg berlebih
  • Kurang waspada terhadap lingkungan sekitar : berlari didepan mobil, melompat ke air tanpa bisa berenang,menabrak tembok
  • Menunjukan perilaku tertentu seperti ketidaknyamanan dengan kontak manusia seperti pelukan,tidak suka berpakaian
  • Tulisan tangan yg buruk yang sulit dibaca
  • Menggigit benda asing yang bukan makanan

System Vestibular (Keseimbangan)
System ini membantu memberikan informasi mengenai gerakan, gravitasi dan perubahan posisi kepala. Pada system ini memerlukan otot yang digunakan dalam pengolahan control postur, control gerakan dan kekuatan. Aplikasi dalam aktifitas sehari – hari meliputi kemampuan berjalan, ketahanan duduk, naik dan turun tangga dll.

Manifestasi dari gangguan pada system sensory ini:

Sensory Seeker ( mencari stimulasi )

Sensory Avoider ( menghindari stimulasi )

Tidak bisa diam

Menolak diberikan aktifitas keseimbangan

Melompat – lompat pada situasi yang tidak tepat

Menolak naik escalator atau lift

Senang memanjat - manjat

Menolak bermain prosotan / ayunan / flying fox

Berputar – putar tidak merasa pusing

Waspada saat memasuki ruang / orang baru


System Propioseptif (Rasa Sendi)

Berperan dalam memproses input otot, tendon, sendi dan memberitahukan posisi tubuh anda. Hal ini erat kaitannya dengan system vestibular yang membantu memberikan pemahaman pengalaman sentuhan dan gerakan.

Manifestasi dari gangguan pada system sensory ini:

Sensory Seeker (mencari stimulasi )

Sensory Avoider ( menghindari stimulasi )

Melempar bola terlalu berlebihan

Lemah saat melempar bola

Tulisan di kertas terlalu menekan

Tulisan di kertas terlalu tipis

Terlalu senang ( evoria ) dengan menghentak – hentakkan kaki ke lantai

Menolak melompat

Terlalu membutuhkan stimulasi mencengkeram,gemes, menjambak

Lemah dalam memegang benda / mudah lepas



System Taktil (Pengindraan Kulit)

Berperan dalam memproses input yang masuk melalui perabaan yang digunakan dalam konsep kesadaran tubuh dan perencanaan gerakan. Yang membantu memberikan informasi tentang benda – benda dengan bentuk dan karakteristiknya ketika system taktil anda bekerja dengan baik maka anda akan tahu mana sentuhan yang mengkhawatirkan , sentuhan yang menyenangkan anda sehingga anda akan paham mana sentuhan yang harus diabaikan.

Manifestasi dari gangguan system sensori ini:

Sensory Seeker ( mencari stimulasi )

Sensory Avoider ( menghindari stimulasi )

Tidak mau ditinggal dengan orang yang tidak dikenal / senang menempel – nempel orang

Menolak dipeluk / digendong

Merobek – robek kertas

Tidak menyukai baju baru / label baju dibelakang leher

Menjambak teman

Menolak bermain sesuatu yang bertekstur ( lem, pasir . handpainting, adonan kue dll )

Stimulasi diri dengan main jari / mengibas – ibaskan rambut

Tidak menyukai makan memakai tangan

Jalan menyeret

Jalan jinjit


Dan masih banyak manifestasi gangguan sensory yang saling berkaitan dengan system sensori atau pengindraan lain yang muncul dalam kehidupan sehari – hari di sekitar kita.

Integrasi Sensory merupakan proses organisasi informasi di Susunan Syaraf Pusat ( SSP ) yang didapat dari lingkungan untuk digunakan dalam kehidupan sehari – hari atau dengan kata lain membantu untuk beradaptasi dalam mengintegrasikan system sensori yang TIDAK OKE menjadi OKE.

Prosedur Terapi Sensori Integrasi


Aktivitas terapi sering dilakukan melalui permainan dan kegiatan yang menyenangkan untuk membuat anak merasa nyaman dan terlibat.

Terapis biasanya menggunakan berbagai metode yang dirancang untuk menstimulasi berbagai sistem sensori, di antaranya sebagai berikut.

  1. Terapi berbasis permainan (play-based therapy). Menggunakan permainan sebagai alat utama untuk memberikan stimulasi sensorik.
  2. Terapi dengan peralatan khusus (specialized equipment therapy). Menggunakan peralatan khusus seperti bola terapi, trampolin, atau papan keseimbangan untuk memberikan stimulasi sensorik.
  3. Metode diet sensorik (sensory diet). Mengembangkan rencana aktivitas sensorik yang dirancang khusus untuk kebutuhan anak dengan tujuan memberikan jenis dan jumlah input sensorik yang dibutuhkan sepanjang hari. Misalnya berayun, melompat, dan menggosok.
  4. Metode relaksasi dan regulasi (relaxation and regulation techniques). Menggunakan teknik untuk membantu anak mengatur respons sensorik mereka, seperti latihan pernapasan, teknik relaksasi, atau penggunaan alat bantu seperti selimut berat.
  5. Metode sensorik terpadu (integrated sensory approach). Menggabungkan berbagai bentuk stimulasi sensorik dalam satu sesi terapi. Misalnya, menggunakan ayunan sambil bermain dengan mainan taktil atau mendengarkan musik sambil melakukan aktivitas motorik.

Aktivitas disesuaikan berdasarkan respons anak untuk memastikan bahwa setiap sesi memberikan tantangan yang tepat dan mendukung perkembangan kemampuan sensori.

Secara rutin, terapis akan menilai kemajuan anak terhadap tujuan yang telah ditetapkan dan menyesuaikan rencana terapi sesuai kebutuhan.

Bagaimana Cara Terapi Sensori Integrasi di Rumah?


Terapi sensori integrasi sendiri di rumah dapat dilakukan dengan berbagai kegiatan yang dirancang untuk merangsang dan mengatur sistem sensorik anak.

Berikut beberapa ide sensory play dan aktivitas yang bisa dicoba.

1. Aktivitas sentuhan

Aktivitas sentuhan dapat melibatkan berbagai bahan dan alat yang merangsang indra peraba anak, seperti berikut ini.

  • Bermain dengan pasir atau beras: Mengisi wadah dengan pasir atau beras dan menyembunyikan mainan kecil di dalamnya untuk ditemukan anak.
  • Lukisan jari: Menggunakan cat jari untuk melukis di atas kertas atau permukaan yang dapat dicuci.
  • Permainan playdough atau tanah liat: Membentuk playdough atau tanah liat untuk meningkatkan keterampilan motorik halus.

2. Aktivitas gerakan

Aktivitas gerakan dapat dilakukan dengan gerakan yang membantu anak mengembangkan keterampilan motorik, keseimbangan, dan koordinasi.

  • Melompat-lompat di trampolin: Melompat-lompat di trampolin kecil dapat membantu mengatur input vestibular.
  • Menari: Mengadakan sesi menari dengan musik yang anak sukai untuk merangsang gerakan dan koordinasi.
  • Bermain guling-guling: Membiarkan anak berguling-guling di lantai atau karpet.

3.  Aktivitas proprioseptif

Aktivitas proprioseptif melibatkan penggunaan tekanan dan gerakan berat untuk membantu anak merasa lebih tenang dan terorganisir.

  • Pelukan: Memberikan pelukan erat atau menggunakan selimut berat untuk memberikan tekanan dalam.
  • Bermain dorong atau tarik: Bermain tarik tambang atau mendorong benda berat seperti kotak yang diisi mainan.
  • Menggunakan bola terapi: Anak bisa duduk atau berguling di atas bola terapi untuk memberikan input proprioseptif.

4. Aktivitas vestibular

Aktivitas vestibular sebagai terapi sensori integrasi di rumah melibatkan gerakan yang merangsang sistem saraf untuk mengembangkan respons keseimbangan dan koordinasi.

  • Berputar-putar: Membiarkan anak berputar di kursi yang bisa berputar atau bermain di komidi putar kecil.
  • Bermain di taman bermain: Menggunakan peralatan taman bermain seperti ayunan, perosotan, jungkat-jungkit, dan monkey bars.

5. Aktivitas auditori

Aktivitas auditori berfokus pada stimulasi dan pemrosesan stimulasi pendengaran.

  • Mendengarkan musik: Memainkan musik yang menenangkan atau ritmis untuk merangsang pendengaran.
  • Main musik: Menggunakan mainan musik seperti drum, xylophone, atau marakas.
  • Cerita audio: Mendengarkan cerita audio atau buku audio.

6.  Aktivitas visual

Aktivitas visual dilakukan dengan meningkatkan stimulasi untuk anak dan pengembangan keterampilan visualnya, seperti penglihatan, koordinasi mata-tangan, dan pemrosesan visual.

  • Cahaya berwarna: Menggunakan lampu berwarna atau mainan dengan lampu yang dapat berubah warna.
  • Mencocokkan bentuk dan warna: Bermain dengan permainan yang melibatkan mencocokkan bentuk dan warna.
  • Papan cahaya: Menggunakan papan cahaya untuk bermain dengan bayangan dan bentuk.

7.  Aktivitas oral-motorik

Aktivitas oral-motorik dalam terapi sensori integrasi berfungsi menstimulasi otot-otot yang digunakan berbicara untuk melatih anak dengan speech delay.

  • Mengunyah makanan bertekstur. Memberikan makanan dengan berbagai tekstur untuk dikunyah, seperti wortel mentah, apel, atau pretzel.
  • Mengisap dan menyedot. Menggunakan sedotan untuk minum berbagai jenis cairan dengan konsistensi yang berbeda (misalnya air, jus, dan puding).
  • Meniup dan mengembus. Meniup balon, meniup gelembung, atau meniup kapas dengan sedotan.

Kesimpulan

  1. Terapi sensori integrasi adalah jenis terapi yang biasanya digunakan untuk anak yang mengalami kesulitan dalam memproses dan merespons stimulasi sensorik dari lingkungan mereka.
  2. Tujuan dari terapi ini yaitu untuk membantu anak memproses stimulasi sensorik dengan lebih baik, sehingga mereka dapat berfungsi dengan lebih baik dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Terapi ini biasanya dilakukan oleh terapis okupasi yang memiliki pelatihan khusus dalam terapi sensori integrasi. Terapis akan menggunakan berbagai teknik dan alat untuk membantu anak mengembangkan respons sensorik yang lebih teratur dan efektif.

Referensi
  1. https://klinikpintar.id/blog-pasien/mengenal-terapi-sensori-integrasi-untuk-tumbuh-kembang-anak?utm_source=google&utm_medium=organic&utm_campaign=search&utm_term=
  2. https://www.kiddiecarecentre.com/articleDetail/12
  3. https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/2941/sensory-integrasi-untuk-gangguan-tumbuh-kembang-anak
  4. https://rsupsoeradji.id/sensori-integrasi-pada-perkembangan-anak/
  5. https://herminahospitals.com/id/articles/apa-itu-sensori-integrasi.html
  6. https://primayahospital.com/anak/terapi-sensori-integrasi/
  7. https://hellosehat.com/parenting/kesehatan-anak/gangguan-perkembangan/terapi-sensori-integrasi/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Short Wave Diathermy (SWD)